\n

Hati-hati memilih pemborong untuk membangun rumah

June 10, 2010 by  
Filed under Curhat PNS online

Pada hari Senin kemarin tanggal 7 Juni 2010, akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke rumah baru di daerah Bubulak dekat terminal Bubulak atau alamat persisnya di Kp. Pilar II Gg. Pesantren no 5 Rt. 04 RW 01. Kelurahan Bubulak Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor. Meskipun rumah baru ini belum diselesaikan dan masih jauh dari sempurna oleh pemborongnya tetapi karena kontrakan sudah seminggu habis masa berlakunya, “dipaksakeun wae, atuda kumaha.. wayahna we…”

Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan sedalam-dalamnya;  semoga Allah SWT memberikan balasan yang berlebih kepada teman-teman yang sudah membantu memberikan tenaga dan perhatiannya pada saat saya pindahan, nuhun Ho, Bar, yang sudah menemani saya bolak-balik sampai gempor 7 rit SBJ -gg pesantren bolak balik dari pagi sampai malam, pak Aja hatur nuhun dan selamat atas kelahiran putra ke-4 (atos atuh ulah nambih deui ahh…),  makasih om Fer dan om Her yang sudah “nyetir” truk engkel, buat bawa barang-barang yang besarnya, juga untuk bos binamarga yang sudah berkenan meminjamkan truknya, tapiiii…  kok datengnya cuman satu truk, padahalkan saya pesan 10 kendaraan (3 dump truk, 3, engkel, 2 hulux, 1 Crain dan 1 Rolling)  hehehehe…. Terima kasih… Hatur nuhun pisan… semoga Allah memberikan kemudahan dalam segala urusan.. amien….

Hati ini sebenarnya sangat berbahagia sekali karena alhamdulilah akhirnya bisa juga punya rumah sendiri, dan meskipun pemborongnya “kabur” tapi sebenarnya hati ini tetap senang karena Over all kualitas rumah ini masih jauh lebih baik daripada membeli rumah di perumahan, mulai dari kualitas struktur, kusen, luas tanah, dsb.

Akhirnya pekerjaan-pekerjaan yang belum diselesaikan oleh pemborong yang bergelar bangsawan TB. (TeuBagus => karena pekerjaan tidak bagus 🙂 ) ini satu-persatu sudah mulai terselesaikan, mulai dari pagar depan, tembok yang sudah di pagari dan pintu besinya sudah datang/jadi, tinggal dipasang saja. Kemudian yang bocor juga sudah di no-drop lagi, lumayan berkurang jauh, meskipun masih ada sedikit “tampias” di kamar depan. Paralon-paralon dan kran yang bocor juga sebagian besar sudah diganti, tinggal di bagian belakang saja yang baru ketahuan hari ini bocornya 🙂

Hati ini sebenarnya tidak marah, mungkin hanya kecewa dan sedih saja, sedih karena kok punya teman seperti  dan sedih juga kasihan karena pasti yang rugi adalah pemborongnya sendiri, kalau saya sih yakin Insya Allah kalau saya bisa lulus dari ujian ini, pastilah Allah akan memberikan yang lebih besar dari yang diambil oleh pemborong ini,  kok kenapa tidak dibicarakan saja gituloh apa masalahnya, kok langsung menghilang saja. Kasihan kan yang rugi pasti dia sendiri, memberi rejeki dgn rejeki yang tidak jelas untuk anak istrinya, belum nama baik dan kepercayaan pastinya menurun drastis. Setelah beberapa kali handphonenya off line dan beberapa kali jalir janji dalam penyelesaian pekerjaan, komunikasi terakhir yang dilakukan adalah pada hari senin ketika saya pindahan via sms yang isi seperti berikut ini:

nama pemborongnya saya beri inisial saja yaitu TB.E, tapi pemborong atau orang-orang yang berkecimpung di dunia konstruksi di Bogor pasti taulah siapa orangnya, pemborong yang tinggal di perumahan GM Bogor yang berinisial TB.E yang mempunyai saudara dan saudari serta orang tua yang berkecimpung di dunia konstruksi juga baik di pemerintahan atau swasta, yang biasanya memakai bendera CV. V

saya: Pa TB.E kumaha damang? punten kumaha ieu penyelesaian bumi teh, aya naon atuh masalahna, hayu atuh urang dibadamikeun, ngarah sami2 raos. Iraha atuhnya tiasa pendak?

(Pa TB.E gimana sehat? maaf bagaimana tentang penyelesaian rumah, ada apa masalahnya, ayo kita bicarakan biar sama enak. Kapan bisa ketemu)

Jawab TB.E: Muhun abdi pa abdi hoyong pendak kin dinten rabunya pa, ayeuna abdi rada kirang sehat, punten sate acana jd jie hapunten (ini sms kata2 aslinya loh…)

(Iya saya juga ingin ketemu, nanti hari rabu yah pak, sekarang saya sedang kurang sehat, mohon maaf sebelumnya jadi begini, maaf)

Saya: Muhun diantos sing enggal sehat lahir batin, abdi dinten ayeuna ngalih, htr nuhun

(Iya saya tunggu, semoga lekas sembuh lahir dan batin, saya hari ini pindahan, terima kasih)

Dalam sms ini saya tidak mengatakan menerima permintaan maafnya, karena menurut Aagym sih kalau kita merasa bersalah dan mau minta maaf itu ada 3 (tiga) langkah yang harus dilakukan yaitu:

1. Ada pernyataan meminta maaf, 2. Menjelaskan alasannya kenapa bisa bersalah, 3. Membuat komitmen dan kompensasi serta benjanji tidak akan mengulangi perbuatan yang salahnya.

contoh: saya terlambat datang mengajar ke kelas, maka saya akan meminta maaf kepada murid-murid saya; “saya minta maaf karena terlambat”, kemudian saya jelaskan kenapa saya terlambat’ “saya hari ini terlambat karena tadi malam saya baru pindahan rumah sehingga kecapaian dan bangun kesiangan”, terus membuat kompensasi dan komitmen; “baiklah sebagai kompensasi dari keterlambatan saya maka saya akan memberikan ulangan harian… aya coba keluarkan kertas selembar dan simpan semua buku dan tas di depan” hehehe… yaahhh mungkin kompensasi yang membuat anak-anak senanglah tergantung situasi dan kondisinya, kalau pelajaran yang sudah diberikan sebelumnya sudah lumayan banyak, maka kompensasinya adalah; “kalau begitu kita pelajaran bebas saja hari ini” atau kalau materi pelajaran masih kurang maka bisa saja kita memberikan pelajaran/jam tambahan di hari lain… kemudian komitmen; “okelah saya berjanji tidak akan telat lagi, toh tidak mungkin pindahan setiap bulan atau setiap minggu 🙂 ”

eh kok malah melancur ke acara mengajar nih 🙂 oke kembali ke laptop, nah itukan sms di hari senin, besoknya hari selasa ada kejadian yang sedikit membuat kesal/marah saya, yaitu ada anak buahnya pak TB.E ini (namanya berinisial I) yang masuk ke bedeng belakang rumah dan kemudian karena kunci bedengnya sudah saya ganti, dia masuk melalui atap bedengnya… yah seperti maling saja itu. Padahal di depan itu ada orang tua saya, tidak ijin, tidak salam atau bagaimanalah sesuai dengan tata rama dan kesopanan, main slonong saja ambil barang di bedeng lewat atap. Bukan masalah barangnya yang diambil tapi yang tidak sopan kepada orang tua saya itulah yang membuat saya sedikit marah, orang tidak sopan ke saya pribadi mungkin masih bisa cu-x sajahlah… tapi kalau ada orang yang tidak sopan kepada orang tua saya… maaf-maaf saja yah, itu orang tua saya yang akan saya bela kehormatannya meskipun harus bersimbah darah! atau harus sampai mati pun akan saya bela kehormatan orang tua saya!

kemudian kalau dilihat barang2nya; yang diambil ternyata adalah sedikit (yah paling seperempat karung juga tidak) pasir dan alat2 kecil lainnya yang harganya tidak seberapa… haduh masa sih tidak bisa beli barang seperempat karung pasir dan sedikit alat-alat untuk bekerja, sampai2 harus “menerobos” seperti maling ke rumah orang 🙂 okelah itu bedeng yang dulunya dia bekerja, tapi kan sekarang sudah ada penghuni yaitu pemilik rumah … mbok ya ada kesopanan sedikit donk… minta ijin dulu kek… pasir yang tidak seberapa meskipun itu seharusnya menjadi milik saya (karena diangap barang/bahan habis pakai, termasuk juga alat2 lain spt cangkul, garpu, kuas, dsb), kalau minta ijin dulu saya kasihlah, kata si I itu sih, pasirnya soalnya kemarin dipinjam dari proyek BNR dan sekarang mau diambil lagi, dipinjam??? saya kan sudah bayar lunas bro… kenapa harus pinjam, meminjam???

Akhirnya dari kejadian itu langsung saya telepon beliau, dan ternyata kembali seperti minggu kemarin-kemarin, hp nya tidak diangkat-angkat. akhirnya saya sms saja yang isinya seperti ini:

“Pak E mhn anak buahnya (IW) diajarkan kesopanan kok masuk ke rumah sy tdk ijin atau sama dl, bukan masalah barangnya tp hidup itu ada tata rama pak! htr nuhun”

ditunggu-tunggu; tidak ada balasan juga, dan akhirnya janji hari rabu untuk ketemu pun tidak ada kabarnya sama sekali 🙂

Dalam tulisan ini saya ingin berbagi kebahagian saya bisa menempati rumah baru dan mungkin curhat atas kekecewaan kepada pemborongnya yang tidak bertanggung jawab dalam penyelesaian pekerjaannya. Dengan tanpa mengurangi rasa gembira dan bersyukur, berikut adalah beberapa kekurangan dari pemborong rumah tersebut adalah:

Pekerjaan Utama (Major Item) yang Tidak Selesai

Beberapa pekerjaan yang belum diselesaikan, yaitu antara lain:

Pagar Luar; Pagar Luar hanya dibuat temboknya saja, sedangkan pintu besi dan pagar di bolong-bolongnya belum diselesaikan.

Pagar Dalam; Selain pagar luar, sudah disepakati adanya pagar di bagian dalam, yaitu di tengah-tengah garasi yang menuju ke bagian belakang rumah, meskipun ditawar oleh pemborong hanya temboknya saja (tanpa pintu besinya) dan okelah disetujui oleh saya, tapi ternyata boro-boro ada temboknya, kosong melompong dan timbunan saja yang ada.

WC Luar; selain WC dalam, dijanjikan juga adanya WC di bagian luar belakang rumah, tetapi yang terbangun ternyata hanya setengah temboknya saja dari satu dinding sekitar 1 x 1,5 m sajah,

Sumur Air, dijanjikan adanya sumur untuk alternatif selain PAM (tetapi PAM tidak termasuk ke dalam kontrak dan sudah saya pasang sendiri), Memang sumurnya sidah digali, tetapi kedalamannya masih kurang dan ditinggalkan dalam kondisi terbuka, belum dipondasi atau ditutup dan karena kedalamannya masih kurang maka kalau tidak ada hujan maka air tidak ada, padahal ditetangga sebelah tidak bermasalah dengan sumurnya, sebenarnya paling tinggal hanya 2 atau 3 meter digali lagi dari kedalaman sekarang (7 meter), maka air pasti akan konstan.

Pompa air dan Torn (Penampungannya), sebenarnya pompa dan penampungan air barangnya sudah tersedia warisan dari teman saya yang baik hati, namun entah kenapa kok tidak dipasang-pasang barangnya, prasangka buruknya sih, jangan-jangan barangnya sudah dilego tuh oleh pemborong bermasalah ini, tinggal masang kok susah amir sih…

Kolam Ikan, anak saya sudah mencita-citakan bahwa di rumah barunya dia ingin ada kolam ikan, akhirnya saya mencoba bernegosiasi dengan pemborong kacau balau ini, dan akhirnya mereka menyetujui untuk membuat kolam ikan yang super sederhana, saya bilang cukuplah dari kramik sisa/bekas, dan ukurannya kecil saja, dan seni atau modelnya juga asal sajalah, yang penting keinginan anak saya terpenuhi, sampai terakhir boro-boro kolam ikan, yang ada kolam air di halaman belakang akibat paralon yang bocor 🙁

Nah itulah beberapa pekerjaan yang belum diselesaikan oleh pemborong yang bermasalah ini.


Penyelesaian Pekerjaa ASAL JADI

Kemudian berikut adalah pekerjaan yang bisa dianggap sudah diselesaikan tetapi penyelesaiannya kalau kata tetangga baru sayah mah; ini ngerjainnnya “asal jadi”

– Kunci Rumah; kayanya dibandingkan dengan kost-kost-an saja kualitasnya masih di bawah deh, dan ternyata belum selesai dan belum ditempati juga handle pintu belakang sudah patah lagi, trus diganti… eh diganti masih dengan kualitas yang sama, kemudian ditempati pintu depan macet, akhirnya saya jebol deh, sampai sekarang belum ada kuncinya lagi tuh… cape deh.. cape deh… cape deh… 🙂

– Keramik WC; warnanya tidak sesuai pesanan, kemudian ini baru kecurigaan saja sih, ini baru atau bekas yah? soalnya masa sih keramik baru sudah ada yang retak-retak di pinggirnya. WC duduk kok tidak ada jeglongan (siraman)-nya ohh…. siram manual 🙂 kemudian istri saya minta dibuatkan sedikit semacam bangku kecil untuk duduk anak saya atau mertua saya yang agak sakit-sakitan duduk, eh… lupa deh… dan juga minta dibuat semacam bolongan untuk menyimpan sabun, dibuatkan sih tapi ukuran dan bentuknya itu loh.. seperti di WC terminal saja, oh iyah… kran airnya juga, baru pindah hari senin, besoknya selasa sudah dollll alias copot putarannya itu dan pipa paralon ledengnya juga sudah bocor… ketrig deui… okelah kalau beg beg beg… 🙂

– Genteng/Atap; kayanya ini genteng bekas yang pak? masa sih genteng baru warnanya kusam begituh dan ada yang potong-potong ujungnya, katanya sih ini model baru “minimalis” seperti di BNR, padahal itu bekas dari BNR kayanya :), kiri kanan dan depan belakang masih bocor-bocor lagi.. gampang tinggal di no drop aja… tapi kapan? yang ada no action and no money padahal saya sudah bayar lunas semua biaya pembangunan ke pemborong omdo ini 🙂 oh iyah tambahan satu komplian, saya pesan untuk menambah sirkulasi udara, ditambahkan lubang udara di antara atap dengan dinding atas… tapi… tutup sekalian dengan plafon 🙂

– Cat Rumah; pesanannya sih untuk di dalam di cat warna putih dan warna mendekati kuning untuk di kamar anak, kemudian abu muda dan tua untuk luar, jadinya => putih dan sedikit krem di dalam, jadi kaya rumah sakit aja deh eh gedung putih aja deh, yaaa sudaaaahhhh 🙂

– Plafon; dipasang tanpa lis atau pembatas ke dindingnya, yaaaa namanya juga minimalis 🙂 tapi kata teman saya sih…. masa sih plafon tidak pakai lis? jawabnya; ya kan minimalis… halah… cape deh cape deh cape deh…

– Paralon Saluran Air bersih dan kotor; kualitasnya benar-benar paling rendah, padahal beda harganya dengan yang kualitas sedang hanya beberapa ribu saja (rp. 3000), kalau yang merk vertu rp. 9000/batang, kalau yang merk wavin rp. 12.000,- cuman beda 3000 sajah per batangnya, padahal instalasi air bersih di rumah itu paling hanya butuh tidak lebih dari 4 batang. Bener-bener kaya raya dan hebat nih pemborong… merk Vertu kan mahal, bisa sampai puluhan juta tuh satunya…. eh itumah VIrtu-V merk handphone yah 🙂 ya gitu deh… akhirnya instalasinya pada bocor, akhirnya ganti semua dengan biaya sendiri… yayayayaaa… baiklah spongebob… 🙂

Kerugian Materil dan Non-Materil

Dengan banyaknya pekerjaan yang belum selesai tersebut berdampak lumayan juga sih kepada keluarga saya ini, bahkan sampai-sampai bapak saya dari Cianjur turun tangan untuk membantu menyelesaikan pekerjaan rumah ini, berikut adalah kerugian baik meterial atau non material

– Yang jelas saya harus keluar biaya lagi untuk menyelesaikan dan memperbaiki rumah ini, beli bahan dan bayar tukang tentunya. Ini adalah kerugian material, tapi alhamdullilah masih ada teman yang baik hati yang mau meminjamkan sedikit rejekinya untuk dihutangkan untuk dipakai belanja bahan dan tukang, hatur nuhun pak… semoga Allah SWT membalas kebaikannya dengan balasan yang berlebih… dan semoga saya bisa cepat-cepat memperoleh rejeki yang halal untuk segera membayarnya…  amien…

– Setiap malam akhirnya saya harus bergadang dan membangun “benteng takeshi” di belakang rumah dengan kunci gembok berlapis-lapis untuk mengamankan 2 sepeda motor dan 3 sepeda goes, plus mobil harus di parkir “malang”/melintang untuk menghalangi orang masuk ke halaman belakang, hati ini tidak bisa tenang karena pagar depan belum ada. Benteng takeshi maksudnya; Pot-pot bunga dan bekas-bekas steger dijejerin untuk menghalangi motor, plus botol aqua galon disimpan di atasnya yang berfungsi sebagai alarm manual, rantai besar di beri gembok besar untuk mengunci sepeda, motor di kunci doubel dan diberi kunci panjang untuk mengunci keduanya, mobil selain kunci setang diberi rantai juga… jadi sekitar 8 kunci harus saya buka dan tutup tiap hari, belum kalau jalan tanahnya masih nempel-nempel lagi karena belum di floor/semen.

Anak akhirnya diungsikan selama seminggu ini ke rumah mertua di jakarta, karena sumur di belakang belum ditutup, kalau ada anak wah…. bisa bahaya tuh. Akhirnya sekolahnya diliburkan sajaaahhhh… 🙂

Bapak saya yang mantan Camat, akhirnya harus menjadi mandor yang mengawasi dan memberikan instruksi untuk menyelesaikan pekerjaan ini… saya sih sudah melarangnya dan menyuruhnya untuk pulang saja ke Cianjur, tapi mungkin karena sayangnya kepada anaknya akhirnya Bapak saya tinggal di rumah baru ini selama seminggu ini… ya Allah ampuni hamba Mu ini yang belum bisa membalas jasa orang tua… malah masih saja merepotkan mereka… ya Allah… sayangi mereka dan ringankan beban mereka di dunia dan akhirat yaaaa Allah…

Okelah mungkin dicukupkan dulu curhatnya sampai disini dahulu… sudah jam 12 malam lebih, sudah ngantuk nih.. tapi tetap harus jaga malam, karena sampai hari ini ternyata pintu pagarnya belum terpasang sempurna 🙂 Besoklah sambil ngeronda lagi dilanjut lagi curhat, saya belum cerita tentang oblrolan di toko matrial dengan seorang pengurus mesjid di perumahan GM yang mana pemborong ini juga yang ikut berperan dalam pembangunannya, plus ada satu warga perumahan GM juga yang memborongkan pekerjaannya kepada pak TB.E  ini yang mengalami masalah juga, trus tiba-tiba ada tagihan dari warung ujung jalan yang meminta tagihan kopi waktu awal-awal pembangunan, yang katanya atas nama saya “heldi” padahal kan waktu itu saya belum terlalu aktif di lokasi pembangunan ini, kok bisa ada tagihan kopi?? dan atas nama saya lagi, kan pada awal-awal itu yang mengcover semua hal logistik adalah mandornya yaitu bapak AS atau langsung pemborong aja, kok tiba-tiba ada tagihan yang belum lunas atas nama saya??? Belum cerita bekas anak buahnya yang upah bayarannya belum dibayar lunas… ah sudah ah… jadi cerita lagi nih… mau bikin kopi dulu deh…

tapi intinya melalui curhat ini mudah-mudah ada solusi yang bisa membuat semua pihak merasa “enak” jangan “cul leos” seperti ini, kalau dulu minta tagihan wahhh begitu bersemangatnya… sekarang sudah dilunasi… kamana wae yeuh???

Share

Pilihan untuk mempunyai Rumah Sendiri

May 25, 2010 by  
Filed under Curhat PNS online

“Hanya bilik bambu tempat tinggal kita
Tanpa hiasan, tanpa lukisan
Beratap jerami, beralaskan tanah
Namun semua ini punya kita
Memang semua ini punya kita, sendiri

Lebih baik disini, rumah kita sendiri
Segala nikmat dan anugerah yang kuasa
Semuanya ada disini
Rumah kita”

Lagu dari God Bless ini adalah lagu motivasi saya untuk dapat segera memiliki rumah sendiri. Sekarangpun mendengarkan lagu ini sambil menulis konten ini,  masih merinding dan berkaca-kaca mata ini sangking meresap dan menyalirnya motivasi dari lagu ini ke dalam badan, daging, tulang dan setiap tetes darah ini dalam tubuh ini… jadi lebay deh 🙂

Dan akhirnya setelah di “appirmasi” selama beberapa tahun ini, maka pada awal tahun 2010 inilah rencana atau keinginan untuk memiliki rumah sendiri baru dapat direalisasikan. Maklumlah kerja sebagai PNS ; perlu waktu beberapa tahun nih untuk mengumpulkan rejeki yang “halal” untuk modalnya 🙂 Dalam posting ini saya mencoba untuk sharing kepada teman-teman yang mungkin masih kebingungan dalam menentukan pilihan untuk memiliki rumah sendiri.

Ada beberapa pilihan yang bisa diambil untuk memiliki rumah sendiri, tentunya di luar pilihan rumah warisan, pemberian orang tua atau mertua, dikasih oleh pemborong, atau pilihan-pilihan lainnya yang tidak mungkin saya pilih karena memang tidak punya kemampuan untuk hal tersebut. Beberapa pilihan yang ada pada waktu itu adalah:

1. Mengambil kavling dari Developer atau perumahan

2. Membangun rumah sendiri; pilihan ini juga dapat  di break down menjadi beberapa pilihan, yaitu:

a. diborongkan secara keluruhan kepada seorang pemborong, sehingga kita tinggal terima kunci rumah saja.

b. bahan dari kita dengan upah buruh harian, atau

c. bahan dari kita dengan upah borongan.

Pilihan pertama untuk membeli rumah di perumahan hampir diambil setelah saya dan istri mensurvey beberapa lokasi perumahan di kota Bogor ini, dari informasi beberapa teman juga melihat iklan di pinggir jalan dengan beragam banner dari developer yang seringkali hanya sekedar menarik dan mengundang kita untuk mengunjungi kantor pemasaran mereka, padahal setelah diminta informasi lebih lengkap dan rinci sih, mana ada rumah yang harganya hanya 50 juta-an, mana ada kalau kita beli rumah terus dapat mobil, motor, bisa liburan ke luar negeri, mana ada cicilan rumah yang bunganya kecil, semuanya pasti ada standarnyalah, apalagi dengan situasi ekonomi sekarang ini, yang meskipun katanya ekonomi kita sudah membaik, tetap saja segala sesuatu harnya terus naik dan mahal.

Bahkan tahun lalu saya sempat sudah membayar DP untuk rumah dari satu developer perumahan di wilayah Bogor Timur, namun karena pelayanan marketing dan developer nya kurang maksimal akhirnya dibatalkan meskipun dengan resiko pengembalian DP nya dipotong biaya adm 🙁 . Pada awal tahun 2010 juga hampir saya melakukan akad kredit untuk mengambil rumah di salah satu perumahan baru di wilayah laladon. Namun akhirnya pilihan pertama untuk mengambil rumah di developer tidak jadi saya ambil dengan beberapa pertimbangan antara lain:

– Kualitas dari bahan di sebagian besar perumahan yang kami survey nampaknya masih kurang maksimal, dapat dilihat dari kualitas kusen, kramik, ada juga rumah baru tapi sudah bocor-bocor, dsb.

– Resiko kita dengan mengambil cicilan untuk rumah di perumahan adalah tentunya adanya bunga yang membuat harga total dari rumah, menjadi dua kali lipat atau bahkan lebih dari harga aslinya/asalnya.

Akhir dengan pertimbangan itu saya memutuskan untuk membangun rumah sendiri dengan pertimbangan paling prinsip adalah;

saya membeli tanah seluas 270 m2, yang berlokasi di pinggiran kota Bogor (perbatasan dengan kabupaten Bogor, tapi yang paling penting adalah masih KOTA BOGOR)  sehingga harganyapun tidak terlalu mahal, hanya dengan Rp. 70 juta-an saya bisa memperoleh lahan seluas 270 m2 dengan akses yang relatif masih dekat ke pusat kota Bogor (wilayah bubulak bogor barat), kemudian saya mencoba menghitung dengan harga satuan standar (kualitas menengah) untuk membangun bangunan adalah Rp. 1,5 juta per meter persegi, maka kalau saya membangun rumah dengan luas kurang lebih 50 m2, maka harnya sekitar 75 juta an, sehingga total bangunan dengan tanah adalah rp. 150 juta.

Saya coba bandingkan dengan harga-harga rumah di perumahan dari brosur-bosur hasil survey, ternyata dengan nilai rp. 150 juta sebagian besar hanya bisa memperoleh rumah type 21 atau 36 yang setelah dilihat langsung kualitasnya ternyata masih dibawah standar menengah dari sebuah rumah hunian. Tanahnya pun hanya lebih sedikit dari bangunannya, paling hanya memperoleh 60 atau 80 m2. Memang sih katanya dengan kita mengambil rumah di perumahan, maka kita juga membeli fasilitas sosial dan fasilitas umum (fasos fasum) nya juga, namun pada akhirnya dengan pertimbangan itulah maka pada tahun ini saya mengambil keputusan untuk membangun rumah sendiri bukan membeli atau menyicil/kredit dari perumahan. Karena dari perhitungan sederhana di atas, dengan uang rp. 150 juta dengan membangun rumah sendiri saya bisa memperoleh tanah yang relatif luas dan bangunan sekita 50 m2 (yang akhirnya sekarang terbangun sekitar 60 m2) dengan kualitas masih lebih baik dari rumah-rumah perumahan. Namun tentunya masing-masing pribadi mempunyai pertimbangan sendiri-sendiri sesuai dengan latar belakang dan kemampuannya masing-masing.

Nah selanjutnya setelah memutuskan untuk membangun rumah sendiri, munculah beberapa pilahan, apakah akan diborongkan semuanya, upahnya saja yang diborongkan, atau semuanya kita yang mengatur (upah buruh harian). Semua pilihan ini tentunya ada baik buruk serta kelebihan dan kekurangannya, tinggal menyesuaikan dengan waktu serta kemampuan kita. Awalnya sih saya akan mengambil alternatif yang ke dua yaitu dengan hanya memborongkan buruhnya saja, sedangkan bahan-bahannya saya belanja dan menyediakan sendiri. Hal ini tadinya akan saya ambil dengan pertimbangan dengan bahan bangunan menyediakan sendiri maka saya akan dapat menentukan sendiri kualitas dan tentunya sebanding dengan kemampuan keuangan yang saya miliki, kemudian dengan upah diborongkan maka tidak ada istilah pekerja yang malas-malasan atau pekerjaannya lambat, karena kalau bahan bangunannya lancar, tentunya saya sebagai pemilik rumah dan para pekerja sama-sama ingin cepat selesai, bagi para pekerja kan cepat atau lambat pekerjaan bayarannya tetap sama karena diborongkan, tinggal kita mengawasi cara dan metoda bekerja mereka saja agar hasilnya sesuai dengan perencanaan bangunan.

Pilihan dengan pekerja sistem harian tidak diambil karena kalau kita menggunakan tenaga harian maka resikonya kita harus mempunyai waktu untuk “nongkrong” setiap hari di lokasi pembangunan untuk mengawasi pekerja. Sedangkan di satu sisi kesibukan saya kerja di kantor dan kerjaan lannya pun tentunya harus dipertimbangkan. Namun bagi teman-teman yang mempunyai waktu luang untuk “nongkrong” di lokasi tentunya ini bisa jadi pilihan yang menyenangkan, menyenangkan tentunya kalau kita tiap hari dapat melihat perkembangan calon dari rumah kita 🙂  atau bisa saja kita siasati dengan menunjuk pengawas dari orang dekat kepercayaan kita, bisa itu saudara kita, teman atau orang lainnya yang relatif bisa dipercaya.

Weiiittsss…. mati lampu nih… nanti dilanjut lagi… baterai laptopnya belum di charge nih 🙂 di upload aja dulu yah, bisi keburu habis…

Share